Mengenai Saya

Foto saya
''mengucap syukurlah selalu dalam segala hal, terlebih khusus pada saat kamu mendapatkan teguran dari Tuhan...karena pada saat kamu mengalami teguran itu, berarti Allah mengasihi kamu lebih dari yang kamu tau, oleh sebab itu Ia menegur sebab teguranNya memberi tanda bahwa Ia sangat mengasihiMu''

Selasa, 08 Januari 2013

Keharuman



Baca: 1 Yohanes 4:7-11
Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. —1 Yohanes 4:11
Dengan gugup Katie menghadiri suatu persekutuan kelompok pemuda gereja karena Linda telah mengundangnya. Katie sudah lama tidak beribadah di gereja sejak ia masih anak-anak, dan ia juga tidak dapat membayangkan seperti apa makan malam di hari Valentine bersama orang-orang yang sebagian besar tidak dikenalnya. Namun hatinya mulai tenang ketika melihat di atas piringnya terdapat kartu-kartu ucapan untuknya yang ditulis oleh setiap orang yang hadir. Mereka juga menulis kartu ucapan untuk satu sama lain, tetapi yang membuat Katie tersentuh adalah mereka juga melakukannya untuk seorang pendatang baru dalam kelompok itu seperti dirinya.
Katie merasa diterima dengan sangat baik, sehingga ia menerima undangan Linda untuk mengikuti kebaktian di gereja. Di sana Katie mendengar tentang kasih Allah baginya meski ia adalah orang berdosa, dan ia pun menerima pengampunan dari Yesus. Kelompok pemuda itu telah menolong Katie merasakan keharuman kasih Allah, dan Allah membuka hati Katie untuk percaya kepada-Nya.
“Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi,” kata Rasul Yohanes (1 Yoh. 4:11). Itulah kasih bagi saudara-saudara seiman kita dan juga bagi mereka yang belum mengenal Kristus. Ray Stedman menulis, “Saat kasih Allah menyinari hati kita, kita menjadi semakin terbuka terhadap orang lain, membiarkan keharuman kasih itu menyeruak dan memikat orang-orang di sekitar kita.” Itulah yang dilakukan kelompok pemuda tersebut bagi Katie.
Allah pun dapat menebarkan keharuman kasih-Nya melalui diri kita hari ini. —AMC
Tuhan, aku sangat bersyukur karena Engkau mengasihiku terlebih
dahulu, sehingga aku bisa mengasihi orang lain. Tebarkanlah
keharuman kasih-Mu melalui diriku agar terpancar
dan menyentuh setiap orang yang kujumpai hari ini. Amin.
Hidup yang saleh itu bagaikan keharuman yang memikat orang lain kepada Kristus.


http://www.warungsatekamu.org/2012/11/keharuman/

Kala Ketakutan Menghadang



Baca: Matius 14:22-33
Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” —Matius 14:27
Saya tidak akan pernah melupakan ketakutan yang saya alami pada masa kecil saya. Begitu lampu kamar saya dipadamkan, tumpukan baju di kursi saya akan berubah menjadi sebentuk bayangan mirip naga. Pengalaman masa kanak-kanak saya dengan insomnia yang dipicu oleh ketakutan tersebut mengingatkan saya bahwa ketika masalah menghadang jalan hidup kita, ketakutan pun menjadi musuh kita. Ketakutan membuat kita tidak mampu bergerak maju dan menjadikan kita merasa ciut untuk melakukan apa yang benar—kecuali jika mata kita tertuju kepada Yesus.
Ketika para murid menghadapi amukan badai laut yang mengancam akan menenggelamkan mereka, Yesus, yang sedang berjalan di atas air meyakinkan mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27). Dan kepada para pengikut-Nya yang mengunci diri karena ketakutan setelah penyaliban-Nya, Yesus menampakkan diri dan bertanya, “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?” (Luk. 24:38). Karena Yesus memahami bahwa pencobaan itu tidak dapat dihindari, Dia berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Maksud Yesus jelas: Mempercayai kehadiran dan kuasa-Nya adalah senjata untuk melawan ketakutan.
Seperti yang dikatakan dalam sebuah himne, “Pandanglah pada Yesus; Oh, pandang wajah-Nya mulia. Isi dunia menjadi suram, oleh sinar kemuliaan-Nya.” Kita dapat merasakan damai sejahtera dengan kesadaran bahwa Allah memang beserta kita. —JMS
Tuhan, di saat-saat kami lemah dan ketakutan, ingatkan kami
bahwa kasih-Mu bagi kami menjadi jaminan atas penyertaan-Mu
dan kuasa-Mu untuk mengatasi segala ketakutan kami.
Ajar kami untuk percaya kepada-Mu.
Percayalah pada kehadiran dan kuasa Yesus pada saat Anda menghadapi badai kehidupan.


http://www.warungsatekamu.org/2012/11/kala-ketakutan-menghadang/

Setia Sampai Mati



Baca: Wahyu 2:8-11
Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! . . . Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. —Wahyu 2:10
Galeri Seni Walker di Liverpool, Inggris, memiliki sebuah lukisan tentang seorang prajurit Romawi yang dengan setia berdiri menjaga kota Pompeii kuno. Lukisan tersebut diilhami oleh sebuah penemuan arkeologi di Pompeii tentang seorang prajurit Romawi dalam perlengkapan militer lengkap yang telah diselimuti abu. Ledakan gunung berapi Vesuvius di tahun 79 m telah menimbun kota tersebut dengan lava dan melahap para penduduk dan budaya mereka dalam waktu sekejap saja. Lukisan yang berjudul “Setia sampai Mati” itu menjadi sebuah kesaksian tentang sikap perajurit tersebut yang tetap berjaga meski sekitarnya sedang ditelan habis oleh kematian yang ganas.
Gereja di Smirna—jemaat abad pertama yang menderita penganiayaan karena Kristus—ditantang untuk setia sampai mati. Komitmen rohani mereka tidaklah diabaikan oleh Sang Tuan (Why. 2:9). Dan untuk setiap penderitaan yang akan mereka alami, Yesus menguatkan mereka dengan mengatakan: “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai . . . . Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (ay.10).
Tuhan memahami segala sesuatu yang sedang kita alami di masa sekarang ini dan apa yang akan kita hadapi di masa mendatang. Meski ada penderitaan di dunia ini, Tuhan menjanjikan hidup kekal bagi anak-anak-Nya. Di dalam kekuatan-Nya, kita dapat setia sampai mati (Flp. 4:12-13). —WEC
Meski tekanan dan beban hidup
Mungkin mematahkan benang imanku,
Namun tonggak kesetiaan Allahku
Tak goyah oleh badai apa pun. —NN.
Iman kita mungkin akan diuji supaya kita mempercayai kesetiaan-Nya.


http://www.warungsatekamu.org/2012/11/setia-sampai-mati/

Tak Dapat Disembunyikan



Baca: Kejadian 3:6-13, 22-24
Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya. —Wahyu 1:5
Saya mencium bau sesuatu terbakar, jadi saya bergegas lari ke dapur. Tidak ada apa-apa di atas kompor maupun di dalam oven. Saya mengendus sambil berkeliling di seputar rumah: dari kamar ke kamar, sampai akhirnya turun ke lantai bawah. Penciuman saya mengantar saya ke kamar kerja saya dan akhirnya ke meja saya. Saya mengintip ke bawah meja, dan intipan saya dibalas dengan tatapan minta tolong dari sepasang mata besar milik Maggie, anjing kami yang berbau “harum”. Ternyata yang tercium seperti bau benda terbakar ketika saya ada di lantai atas adalah bau binatang sigung yang menyengat. Maggie telah lari hingga ke sudut terjauh di rumah kami untuk menghindari bau busuk itu, tetapi ia tidak dapat bersembunyi dari bau yang telah menempel di tubuhnya itu.
Dilema yang dialami Maggie mengingatkan saya akan upaya saya yang berulang kali melarikan diri dari beragam keadaan yang tidak menyenangkan, hingga pada akhirnya saya sadar bahwa masalahnya bukanlah pada keadaan yang saya hadapi melainkan pada diri saya sendiri. Sejak Adam dan Hawa bersembunyi setelah mereka berdosa (Kej. 3:8), kita semua mengikuti contoh mereka. Kita melarikan diri dari keadaan yang kita hadapi karena berpikir bahwa kita dapat melarikan diri dari masalah tersebut—hingga pada akhirnya kita sadar bahwa kita sendirilah yang bermasalah.
Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah diri sendiri ini adalah dengan berhenti bersembunyi, menyadari ketidaktaatan kita, dan membiarkan Yesus membasuh kita dengan bersih (Why. 1:5). Saya bersyukur karena pada saat kita berdosa, Yesus bersedia memberikan suatu awal yang baru kepada kita. —JAL
Dari salib mulia di Kalvari
Mengalir aliran darah abadi,
Bawa kemenangan, sucikan hati,
Lewat kasih yang tak tersudahi. —Elliott
Kebobrokan dosa membutuhkan pembersihan dari Sang Juruselamat.


http://www.warungsatekamu.org/2012/11/tak-dapat-disembunyikan/

Setiap Hari



Baca: Matius 6:5-15
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. —Matius 6:11
Pada tahun 1924, Johnny, seorang anak lelaki yang suka bermain bola basket, berhasil lulus dari sebuah sekolah kecil di desanya. Ayahnya yang penuh kasih, tetapi tak punya banyak uang untuk membelikan hadiah kelulusan, memberi Johnny selembar kartu ucapan yang ia tulis dengan 7 tuntunan hidup yang diyakininya sendiri. Ia mendorong Johnny untuk mulai mengikuti tuntunan itu setiap hari. Tiga dari ke-7 tuntunan itu adalah: Nikmatilah hikmat dari buku-buku yang bagus, terutama dari Alkitab. Jadikan setiap hari sebagai mahakaryamu. Berdoalah untuk bimbingan Tuhan dan bersyukurlah atas berkat yang kau terima setiap hari.
Tuhan Yesus, dalam doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami (Mat. 6:9-13), mengajar kita untuk menghampiri Bapa surgawi kita setiap hari; karena ini bukanlah sesuatu yang hanya diucapkan sekali, lalu dilupakan. Melalui doa ini, kita menaikkan pujian kepada Allah (ay.9); mencari kerajaan-Nya dan kehendak-Nya (ay.10); mempercayai pemeliharaan-Nya (ay.11); dan meminta pengampunan, kuasa dan penyelamatan-Nya (ay.12-13).
Sepanjang hidupnya, Johnny mengandalkan kekuatan Tuhan untuk menjalani hidup hari demi hari bagi-Nya. Ia kemudian berhasil menjadi pemain basket terbaik tingkat mahasiswa di Purdue University sebanyak tiga kali, lalu menjadi salah satu pelatih basket kampus terbaik di sepanjang masa. Ketika pelatih John Wooden meninggal pada usia 99 tahun, ia dihormati terutama karena kepribadiannya, imannya, dan pengaruh yang ia tularkan kepada banyak orang.
Oleh kasih karunia Allah, mari kita jadikan setiap hari sebagai mahakarya kita bagi-Nya. —DCM
Bapa surgawi, terima kasih atas berkat dan hak istimewa dari-Mu
sehingga aku bisa menikmati limpah hikmat dari firman-Mu.
Bimbing aku di saat aku mencari-Mu. Aku ingin mengenal-Mu
dan kiranya hidupku membuat-Mu tersenyum.
Setiap hari, kita dipanggil untuk hidup dalam komitmen teguh kepada Kristus.


http://www.warungsatekamu.org/2012/11/setiap-hari/

Gagal



Baca: Roma 3:19-28
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. —Roma 3:23
Salah satu tren yang sempat merebak di dekade 1970-an di Amerika adalah aksi lompat dengan sepeda motor. Tren ini mencapai puncak ketenaran (sekaligus titik penurunannya) pada tanggal 8 September 1974. Ribuan penonton berkumpul di Ngarai Snake River di Idaho untuk melihat apakah Evel Knievel dapat menyeberangi jurang yang ada dengan “sepeda motor langit” yang sudah dirancang secara khusus. Pada akhirnya, aksi tersebut gagal. Knievel hanya dapat mencapai setengah dari jarak jurang tersebut sebelum ia membuka parasutnya dan mendarat di dasar ngarai. Ada penonton yang bertanya, “Berapa jauh jarak ngarai yang berhasil dilaluinya?” Namun itu bukan masalah utamanya. Knievel tidak berhasil tiba di seberang jurang, jadi ia gagal mencapai tujuannya.
Adegan ini menjadi ilustrasi yang baik tentang dosa. Alkitab berbicara tentang dosa di Roma 3:23, dimana Paulus mengatakan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Tidak ada yang sanggup menjembatani jurang antara Allah dengan kita melalui usaha kita sendiri, tetapi justru untuk itulah Sang Juruselamat datang melakukannya bagi kita. Dengan sempurna, Kristus memenuhi standar Allah, kemudian Dia memberikan nyawa-Nya di atas kayu salib untuk menebus segala kesalahan dan kegagalan kita. Kita sudah pasti gagal, tetapi karya Kristus yang dilakukan karena kasih-Nya itu sudah cukup untuk menggenapi segala sesuatu yang diperlukan bagi keselamatan manusia.
Tanggapan yang sepantasnya kita berikan adalah mempercayai-Nya dan menerima karunia keselamatan yang tiada bandingnya ini. —WEC
Tiada nama lain di atas bumi
Yang oleh-Nya keselamatan diberi
Yesus Kristus Anak Domba Allah saja,
Pemberian Allah yang mulia dari surga. —Stairs
Salib Kristus menjembatani jurang pemisah yang tidak mungkin dapat kita seberangi sendiri.


http://www.warungsatekamu.org/2012/11/gagal/

Tidak di Tinggalkan



Baca: Mazmur 13
Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terusmenerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? —Mazmur 13:2
Ketika Karrisa Smith sedang melihat-lihat buku di sebuah perpustakaan setempat sambil membawa putrinya yang berusia 4 bulan dan suka berceloteh tanpa henti, seorang pria tua dengan kasar menyuruh Smith untuk membuat putrinya diam atau pria itu sendiri yang akan melakukannya. Smith menjawabnya, “Saya turut menyesal atas apa pun yang telah terjadi dalam hidup Anda sehingga Anda begitu terganggu oleh bayi yang sedang bergembira. Namun saya takkan meminta bayi saya untuk berhenti mengoceh, dan saya pun takkan membiarkan Anda melakukannya.” Pria itu menundukkan kepala dan meminta maaf, lalu bercerita tentang putranya yang meninggal lebih dari 50 tahun yang lalu karena Sindrom Kematian Bayi Mendadak. Selama itulah pria tua itu telah memendam rasa duka dan amarahnya.
Di Mazmur 13, Daud mengungkapkan rasa dukanya. Ia dengan jujur dan blak-blakan meratap kepada Allah, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (ay.2). Pertanyaan ini mencerminkan rasa takut akan ditinggalkan. Seruan kesedihan Daud tergantikan dengan permohonan minta tolong dan penegasan kembali imannya dalam kasih Allah baginya (ay.4-6). Keyakinan dan keteguhan tekad muncul seiring dengan seruan kesedihan.
Kita semua pernah mengalami suatu masa kekelaman jiwa dimana kita bertanya apakah Allah telah meninggalkan kita. Namun seperti Daud, rasa sakit kita bisa tergantikan dengan sukacita ketika kita menghampiri Allah dengan jujur, memohon pertolongan-Nya, dan menegaskan kembali kepercayaan kita dalam Allah yang kasih-Nya bagi kita takkan pernah goyah atau berubah. —MLW
Kristuslah jawaban bagi hati yang luka,
Kristuslah jawaban bagi penderitaan;
Meski orang lain meninggalkanmu,
Dia akan senantiasa berada di sisimu. —Elwell
Allah tidak pernah membiarkan kita dan meninggalkan kita.


http://www.warungsatekamu.org/2012/11/tidak-ditinggalkan/